Rabu, 14 Mei 2014
Caleg terpilih menjadi Anggota DPRRI 2014-2019
Berdasar Keputuusan KPU ,14Mei 2014.,nomor 416 tahun 2014.
Caleg terpilih menjadi Anggota DPRRI 2014-2019
Hanafi Rais,PAN
H.M.IdhamSamawi ,PDIP.
Siti Hediati S , Golkar
MY Esti Wijayati ,PDIP.
Andhika Pandhu P,Gerindra.
Dr. H .Sukamta.,PKS.
H. Agus Sulsityono,PKB.
Ambar Tjahyono, P Demokrat.
Anggota DPD terpilih 2014:
GKR Hemas
Moch Afnan Hadikusumo.
Cholid Mahmud.
Hafidz Asrom
Jumat, 09 Mei 2014
Hasil rekapitulasi KPU nasional pemilu 2014 yang disahkan 9 Mei 2014 malam
Berikut ini daftar lengkap perolehan suara parpol peserta Pemilu 2014 dari hasil rekapitulasi KPU nasional
9 Mei 2014 malam.
1. Partai NasDem: 8.402812 (6,72%)
2. PKB: 11.298.957 (9,04%)
3. PKS: 8.480.204 (6,79%)
4. PDIP: 23.681.471 (18,95%)
5. Partai Golkar: 18.432.312 (14,75%)
6. Partai Gerindra: 14.760.371 (11,81%)
7. Partai Demokrat: 12.728.913 (10,19%)
8. PAN: 9.481.621 (7,59%)
9. PPP 8157488 6,53%
10. Partai Hanura: 6.579.498 (5,25%)
14. PBB: 1.825.750 (1,46%)
15. PKPI: 1.143.094 (0,91%)
Total suara sah dalam Pemilu 2014 adalah 124.972.491.
Partisipasi masyarakat dalam pemilu legislatif ini mencapai 75,11 persen.
untuk jual beli rumah lihat :
http://rumahtanahdijogjakarta.blogspot.com/
Selasa, 29 April 2014
Saat ini, Demokrasi atau MoneyCrazy..?
Pemantau pemilu
Kemitraan mengungkapkan, praktik politik uang pada Pemilu 2014 terjadi lebih
masif, vulgar, dan brutal dibandingkan pemilu terdahulu. Bukan hanya melibatkan
peserta pemilu dan pemilih, tetapi juga penyelenggara pemilu.
"Kami banyak
mendengar dan menerima laporan, politik uang pada pemilu kali ini sangat masif,
vulgar dan brutal. Bahkan, ada yang mengatakan paling brutal dan vulgar
dibanding pemilu-pemilu sebelumnya," ujar Penasehat Pemantau Kemitraan
Wahidah Suaib di Gedung Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Jakarta Pusat,
Senin (21/4/2014, kompas).
Dia mengatakan,
berdasarkan laporan pemantau di lapangan, politik transaksional melibatkan
partai, caleg, saksi partai, kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dan
panitia pemungutan suara (PPS). Hal itu dilakukan untuk memenangkan caleg atau
partai tertentu.
Wahidah juga mengatakan,
hal tersebut jelas melanggar azas independensi dan profesionalisme yang
mestinya dijunjung tinggi penyelenggara pemilu di semua tingkatan. Politik
tebar uang ini sangat memprihatinkan karena dilakukan secara terang-terangan
dan parahnya sebagai suatu yang hal lazim.
Terkait politik uang
yang makin menguat, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pernah membuat survei
khusus untuk mengukur tingkat skala politik uang dalam pilkada. Survei tersebut
dilakukan dengan populasi nasional pada bulan Oktober 2005 dan Oktober 2010.
Survei menggunakan metode penarikan sampel Multistage Random Sampling (MRS).
Jumlah sampel sebanyak 1.000 orang responden dengan tingkat kesalahan sampel
(sampling error) sebesar plus minus 4%. Hasil survey menunjukkan publik yang
menyatakan akan menerima uang yang diberikan oleh kandidat mengalami kenaikan.
Pada tahun 2005, sebanyak 27,5% publik menyatakan akan menerima uang yang
diberikan calon dan memilih calon yang memberi uang. Angka ini naik menjadi
37,5% di tahun 2010.
Demikian pula persepsi public
bahwa politik uang akan mempengaruhi pilihan atas kandidat, juga mengalami
kenaikan dari 53,9% di tahun 2005 menjadi 63% di tahun 2010.
(suarapublik.co.id/index/index.php?...politik-uang..).
Sedangkan faktor yang
menyebabkan poltik uang ini makin marak dan seperti lazim sampai saat ini, menurut hasil survey dan
diskusi adalah:
1. Masyaraakat yang masih perlu uang karena kondisi
ekonominya belum sejahtera.
2. Caleg yang
memaksakan diri, tanpa melihat kemampuan riil.
3, Adanya investor atau
botoh atau cukong yang siap mendanai si caleg , yang bila berhasil jadi anggota
legislatif, si pemodal itu akan mendapat
proyek ( main mata ) dari pemda atau
pemerintah pusat yang seharusnya ditender terbuka. Seperti diketahu anggota
legislatif saat ini punya wewenang di anggaran APBD/APBN sampai sangat rinci.
4. Prakondisi di
masyarakat dimana banyak sekali pilkada
menggunakan politik uang dan si pemain money politik tetap dapat berkuasa
dengan nyaman.
5. Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga hukum pengadil pemilihan umum telah tercoreng oleh kasus suap yang mengenai langsung Puncak kekuasaan Mahkamah Konstitusi yaitu Ketua Mahkamah Konstitusi.
5. Prakondisi di
masyarakat oleh putusan -putusan Mahkamah Konstitusi (MK) sejak MK menangani sengketa hasil Pilkada dari tahun 2008 ( baik diketuai Mahfud ataupun Akil ) yang
didalamnya terdapat politik uang, yaitu
a. MK tidak merekomendasikan pengusutan
politik uang ke polisi menjadi pidana dengan sangsi hukum yang berat dan
hanya mendiskualifikasi ( menggugurkan ) peserta pilkada tersebut.
b. Bila pihak penggugat dan tergugat akhirnya terbukti di persidangan
sama sama melakukan politik uang gugatan
cuma ditolak tapi tidak ada sangsi hukum
terhadap para pelaku, dan tak ada diskualifikasi pada mereka.
c. Putusan Mk untuk pemilihan ulang tidak ada
sangsi diskualifikasi terhadap pelaku politik uang,atau menjadikannya pidana
pemilu yang berujung diskualifikasi ,
dan ternyata pelaku kembali melakukan politik uang dengan modus yang
berbeda.
Hal ini menjadikan
persepsi di masyarakat bahwa politik uang itu adalah cara yang diperbolehkan
dan pelaku tidak bisa dihukum dan tak
ada sangsi.
Sehingga apa yang bisa diharapkan dari anggota
legsilatif hasil Pemilu 2014 ini ?
Pemilu saat ini lebih
tepat dinyatakan sebagai pesta
MoneyCrazy daripada pesta Demokrasi.
Senin, 28 April 2014
Melihat besarnya kecintaan warga Yogya ke GKR Hemas istri Sultan HB X sebagai DPD RI, Maka Sultan Hamengkubuwono X layak diusung manjadi Calon Presiden RI
Melihat besarnya kecintaan warga Yogya ke GKR Hemas istri Sultan HB X sebagai DPD RI,
Maka Sultan Hamengkubuwono X layak diusung manjadi Calon Presiden RI .
GKR Hemas sebagai permaisuri Sultan HB X telah terpilih 3 kali sebagai anggota DPD , dan meraih dukungan selalu diatas 55 %, dan tanpa politik uang. Kemenangan ini seperti menang satu putaran dalam suatu pemilu dengan pesaing yang berjumlah 12 orang,
Hal ini juga menjadi bukti nyata bahwa keluarga keraton Yogyakarta baik Sultan HB X maupun permaisuri HB X mendapat dukungan dan kecintaan yang besar dari masyarakat.
Sedangka mengenai kompetensi , bisa dilhta dari survei oleh The President Centre Oktober 2013,
"Sri Sultan Hamengku Buwono X meraih nilai tertinggi yakni 529 poin," kata Direktur Eksekutif The President Center saat mengumumkan hasil jajak pendapat di Jakarta, Rabu (23/10/ 2013 ).
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meraih nilai tertinggi sebagai tokoh yang paling memiliki kompetensi untuk diusung sebagai calon presiden atau calon wakil presiden. Jejak pendapat yang dilakukan The President Center, Sri Sultan meraih poin tertinggi mengungguli 37 tokoh nasional lainnya.
GKR Hemas sebagai permaisuri Sultan HB X telah terpilih 3 kali sebagai anggota DPD , dan meraih dukungan selalu diatas 55 %, dan tanpa politik uang. Kemenangan ini seperti menang satu putaran dalam suatu pemilu dengan pesaing yang berjumlah 12 orang,
Hal ini juga menjadi bukti nyata bahwa keluarga keraton Yogyakarta baik Sultan HB X maupun permaisuri HB X mendapat dukungan dan kecintaan yang besar dari masyarakat.
Sedangka mengenai kompetensi , bisa dilhta dari survei oleh The President Centre Oktober 2013,
"Sri Sultan Hamengku Buwono X meraih nilai tertinggi yakni 529 poin," kata Direktur Eksekutif The President Center saat mengumumkan hasil jajak pendapat di Jakarta, Rabu (23/10/ 2013 ).
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meraih nilai tertinggi sebagai tokoh yang paling memiliki kompetensi untuk diusung sebagai calon presiden atau calon wakil presiden. Jejak pendapat yang dilakukan The President Center, Sri Sultan meraih poin tertinggi mengungguli 37 tokoh nasional lainnya.
Rekap KPU DIY 25 April 2014
Dari hasil rekapitulasi KPU DIY :
8 caleg DPR RI yang lolos itu dari 7 parpol.
Berdasarkan hasil rekapitulasi perolehan suara parpol dalam rapat pleno KPU DIY,
PDIP menempati urutan pertama dengan perolehan 511.781 suara atau 24,86 persen.
Posisi kedua ditempati PAN dengan perolehan 282.207 suara atau 13 persen.
PAN namtinya mendapatkan 1 kursi.
Posisi ketiga ditempati Gerindra dengan perolehan 256.401 atau 12,46 persen.
Selanjutnya posisi keempat ditempati PKB dengan perolehan 211.689 suara atau 10,28 persen.
Posisi kelima Golkar memperoleh 193.806 suara atau 9,42 persen.
Posisi keenam PKS memperoleh 173.550 suara atau 8,43 persen.
Posisi ketujuh adalah Partai Demokrat memperoleh 136.876 suara atau 6,65 persen.
Parpol yang sesuai atau memenuhi jumlah Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), 257.433 hanya ada dua partai yakni PDIP dan PAN.
PDIP yang lolos adalah HM Idham Samawi dan Wijayati.
1 Kursi PAN, Golkar, PKS, Gerindra, PKB, adalah
Hanafi Rais, Siti Hediati alias Titiek Soeharto, Sukamto, Andika Pandu Purugabaya, Agus Sulistyono,
Demokrat meraup 136.876 suara, meloloskan Ambar Tjahjono meraih 38.166.
KRMT Roy Suryo hanya mendapatkan 28.243 suara. selisih 10.023 suara di bawah Ambar.
GKR Hemas untuk DPD RI memroleh 1.017.686 suara atau 50,59 persen.
Jumlah perolehan suara yang diraih GKR Hemas ini yang menembus angka 1 juta itu, tidak tertandingi calon lainnya
Caleg Terpilih sementara sebelum penetapan resmi KPU
Data diatas merupakan hasil perolehan suara hasil rekapiltulasi KPU DIY, dan kemuingkinan besar tidak berubah.
Untuk penetapan resmi KPU DIY tangal 9 mei 2014.
Senin, 21 April 2014
Caleg dan berita pengambil alihan BTN oleh Bank Mandiri,
Satu lagi keganjilan muncul di republik ini, yaitu tentang pengambil alihan Bank BTN oleh Bank Mandiri. Hal ini dipandang aneh karena sebenarnya beberapa pengamat perbankan menyatakn Indonesai perlu bank yang fokus ke sektor sektor tertentu dalam upaya untuk memajukan kesejahteraan umum atau kesejahteraan rakyat. Bank BTN adalah masuk 10 bank terbesar di Indonesai dan bank yang dikenal fokus ke sektor perumahan dimana rumah adalah salah satu kebutuhan dasar manusia termasuk manusia Indonesia selain pangan dan sandang.
Perlunya bank fokus juga sempat diutarakan oleh Perbanas, dimana bank umum cenderung akan melayani segmen kredit yang paling menguntungkan, dan ini tentu tidak di KPR untuk ekonomi lemah. Kredit konsumsi seperti kartu kredit dengan bunga tinggi tentu paling menguntungkan misalnya. Jika akan menyasar perusahaan besar raksasa , biasanya perusahan besar juga tidak bergantung ke satu bank mereka bisa sindikasi, justru yang diperlukan adalah regulasi dari BI dan kementrian bidang ekonomi agar perusahaan besar di Indonesai mau ke bank nasional dan tidak ke bank asing, mengingat bank asing memang tingkat bunganya lebih rendah. , maka alasan untuk menyaingi Bank negara lain dengan berdasar ukuran seperti kamuflase. Dan untuk memperbesar ukuran bank bisa juga dilakukan dengan membeli bank swasta bukan BTN bank pemerintah yang fokus ke penyediaan rumah dengan kinerja baik. Bial alasan ketidak berhasilan pencapaian target pemenuhan 15 juta rumah seabgai alasan, ini perlu juga ditinjau dari pengaruh adanya mafia developer perumahan yang cederung tidak mau membangun rumah murah bagi rakyat bukan BTN yang justru fokus sebagai penyalur kredit rumah.
Indonesia untuk pemerataan ekonomi justru perlu banyak bank-bank fokus ke sektor tertentu seperti pertanian, dimana dulu pernah ada Bank Bumi Daya yang fokus ke pertanian.Pak Dahlan perlu berpikir ulang.
mengenai BTN klik dibawah ini
public expose BTN .
Minggu, 20 April 2014
Selasa, 15 April 2014
Pada saatnya, akan diumumkan Caleg Terpilih sesuai Dapil.
( bagi pembaca yang ingin membeli rumah atau tanah di jogjakarta
silakan klik http://rumahtanahdijogjakarta.blogspot.com/
terima kasih..
Money Politik,dan kemiskinan
Tidak dapat disangkal penyebaran uang untuk memenangkan caleg di banyak tempat menurunkan kualitas demokrasi. Caleg yang terpilih menjadi tidak terjamin kualitasnya. Dan banyak caleg atau partai berpikir dan merasa , telah memberi uang ya sudah, berarti sudah membayar pilihan rakyat yang 5 tahun itu. Tidak perlu tanggung jawab untuk 5 tahun,karena kemarin sudah dibayar untuk memilih.
Di lain pihak masyarakat yang masih banyak berkonomi lemah sangat mudah untuk diberi uang dan dibujuk. Memang ada yang berkilah terima uangnya jangan pilih calegnya, tetapi itu juga tidak efektif mengingat para caleg pemberi uang juga punya strategi mengunci yang diberi uang. Terima uang ya harus milih.
Masyarakat yang miskin atau yang masih perlu uang 50 ribu, 100 ribu , 150 ribu pada satu hari itu masih sangat banyak. Uang senilai itu masih menggiurkan, masih dibutuhkan. Kemiskian atau ekonomi masih kekurangan masih merata dibanyak wilayah. kesenjangan ekonomi masih lebar. Di jakarta bisa dilihat banyak pemukiman elit, apartemen dan disebelahnya adalah pemukiman kumuh. Tidak hanya di Jakarta,kaum miskin kota ada dimana - mana. Di desa juga lahan pertanian makin sempit, sehingga memaksa warga jadi pekerja musiman ke kota besar seperti Jakarta,Surabaya, Semarang dll. dan bahkan memaksa mereka untuk pergi jadi tenaga kerja ke luar negeri.
Sebenarnya sudah banyak usaha pemerintah dan keberhasilan dicapai, tetapi memang belum cukup mengingat besarya jumlah penduduk dan pemerataan ekonomi yang tidak rata, baik dari segi wilayah maupun kelompok masyarakat penerima. Di Indonesia pengelompokan masyarakat terutama berdasar wilayah tempat tinggal, organisasi formal non formal , suku bangsa dan beberapa sebab lain.Pengelompokan itu membentuk pola komunikasi, pola interaksi dan juga alur-alur transaksi ekonomi.
Contoh potret kemiskinan menunjukkan suku bangsa Jawa yang merupakan jumlah penduduk terbesar sampai saat ini masih menempati porsi terbesar penduduk miskinnya. Jumlah orang miskin maupun persentase kemiskinan suku bangsa jawa yang tinggal di P Jawa masih besar. Pembangunan memang pesat di wilayah P Jawa tetapi yang menikmati hasil pembangunan utamanya bukan orang jawa.Akses permodalan masih misterius, perbankan dan perusahaan besar dikuasai kelompok tertentu, distribusi barang juga dikuasai kelompok tertentu, tanah - tanah juga dikuasai kelompok tertentu.Wirasawastawan setempat cenderung kecil menengah dan hanya satu dua yang benar-benar besar. Pengelola pemerintahan dan perijinan memanglah orang setempat dan mereka kaya ( secara pribadi) dengan memainkan itu, tetapi yang jelas kekayaan ekonomi secara makro dan roda ekonomi masih dikuasai kelompok tertentu, sehingga pengelola pemerintahan masih takluk pada kelompok penguasa ekonomi.
Di lain pihak masyarakat yang masih banyak berkonomi lemah sangat mudah untuk diberi uang dan dibujuk. Memang ada yang berkilah terima uangnya jangan pilih calegnya, tetapi itu juga tidak efektif mengingat para caleg pemberi uang juga punya strategi mengunci yang diberi uang. Terima uang ya harus milih.
Masyarakat yang miskin atau yang masih perlu uang 50 ribu, 100 ribu , 150 ribu pada satu hari itu masih sangat banyak. Uang senilai itu masih menggiurkan, masih dibutuhkan. Kemiskian atau ekonomi masih kekurangan masih merata dibanyak wilayah. kesenjangan ekonomi masih lebar. Di jakarta bisa dilihat banyak pemukiman elit, apartemen dan disebelahnya adalah pemukiman kumuh. Tidak hanya di Jakarta,kaum miskin kota ada dimana - mana. Di desa juga lahan pertanian makin sempit, sehingga memaksa warga jadi pekerja musiman ke kota besar seperti Jakarta,Surabaya, Semarang dll. dan bahkan memaksa mereka untuk pergi jadi tenaga kerja ke luar negeri.
Sebenarnya sudah banyak usaha pemerintah dan keberhasilan dicapai, tetapi memang belum cukup mengingat besarya jumlah penduduk dan pemerataan ekonomi yang tidak rata, baik dari segi wilayah maupun kelompok masyarakat penerima. Di Indonesia pengelompokan masyarakat terutama berdasar wilayah tempat tinggal, organisasi formal non formal , suku bangsa dan beberapa sebab lain.Pengelompokan itu membentuk pola komunikasi, pola interaksi dan juga alur-alur transaksi ekonomi.
Contoh potret kemiskinan menunjukkan suku bangsa Jawa yang merupakan jumlah penduduk terbesar sampai saat ini masih menempati porsi terbesar penduduk miskinnya. Jumlah orang miskin maupun persentase kemiskinan suku bangsa jawa yang tinggal di P Jawa masih besar. Pembangunan memang pesat di wilayah P Jawa tetapi yang menikmati hasil pembangunan utamanya bukan orang jawa.Akses permodalan masih misterius, perbankan dan perusahaan besar dikuasai kelompok tertentu, distribusi barang juga dikuasai kelompok tertentu, tanah - tanah juga dikuasai kelompok tertentu.Wirasawastawan setempat cenderung kecil menengah dan hanya satu dua yang benar-benar besar. Pengelola pemerintahan dan perijinan memanglah orang setempat dan mereka kaya ( secara pribadi) dengan memainkan itu, tetapi yang jelas kekayaan ekonomi secara makro dan roda ekonomi masih dikuasai kelompok tertentu, sehingga pengelola pemerintahan masih takluk pada kelompok penguasa ekonomi.
Kamis, 10 April 2014
Ada Money Politik di daerah Jawa Tengah
Menurut pantauan KIPP , ada praktek money politik ke warga di Kabupaten Boyolali, Klaten, Delanggu, Sukoharjo, Ungaran.
Dari informasi relawan / responden independent langsung, didapat temuan money poiltik ke warga di Solo, didaerah yang berjarak 1 km dari terminal bis Solo, pada saat menjelang pemungutan suara. Calon pemilih diberi 50 - 100 ribu, oleh tim caleg yang beberapa waktu sebelumnya sudah memberi kartu nama caleg berwarna merah dan atribut kampanye.
Sementara itu di daerah berjarak 2 km dari terminal Kartosuro, terdapat temuan penyebaran uang yang melibatkan pihak-pihak oknum pengurus RT. Kedua Relawan pelapor minta identitanya dirahasiakan, karena kwatir dengan urusan administartif terganngu di kelurahan.Selain itu ada motif pemberian uang setelah mencoblos.
Dari informasi relawan / responden independent langsung, didapat temuan money poiltik ke warga di Solo, didaerah yang berjarak 1 km dari terminal bis Solo, pada saat menjelang pemungutan suara. Calon pemilih diberi 50 - 100 ribu, oleh tim caleg yang beberapa waktu sebelumnya sudah memberi kartu nama caleg berwarna merah dan atribut kampanye.
Sementara itu di daerah berjarak 2 km dari terminal Kartosuro, terdapat temuan penyebaran uang yang melibatkan pihak-pihak oknum pengurus RT. Kedua Relawan pelapor minta identitanya dirahasiakan, karena kwatir dengan urusan administartif terganngu di kelurahan.Selain itu ada motif pemberian uang setelah mencoblos.
Langganan:
Postingan (Atom)



