Pemantau pemilu
Kemitraan mengungkapkan, praktik politik uang pada Pemilu 2014 terjadi lebih
masif, vulgar, dan brutal dibandingkan pemilu terdahulu. Bukan hanya melibatkan
peserta pemilu dan pemilih, tetapi juga penyelenggara pemilu.
"Kami banyak
mendengar dan menerima laporan, politik uang pada pemilu kali ini sangat masif,
vulgar dan brutal. Bahkan, ada yang mengatakan paling brutal dan vulgar
dibanding pemilu-pemilu sebelumnya," ujar Penasehat Pemantau Kemitraan
Wahidah Suaib di Gedung Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Jakarta Pusat,
Senin (21/4/2014, kompas).
Dia mengatakan,
berdasarkan laporan pemantau di lapangan, politik transaksional melibatkan
partai, caleg, saksi partai, kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dan
panitia pemungutan suara (PPS). Hal itu dilakukan untuk memenangkan caleg atau
partai tertentu.
Wahidah juga mengatakan,
hal tersebut jelas melanggar azas independensi dan profesionalisme yang
mestinya dijunjung tinggi penyelenggara pemilu di semua tingkatan. Politik
tebar uang ini sangat memprihatinkan karena dilakukan secara terang-terangan
dan parahnya sebagai suatu yang hal lazim.
Terkait politik uang
yang makin menguat, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pernah membuat survei
khusus untuk mengukur tingkat skala politik uang dalam pilkada. Survei tersebut
dilakukan dengan populasi nasional pada bulan Oktober 2005 dan Oktober 2010.
Survei menggunakan metode penarikan sampel Multistage Random Sampling (MRS).
Jumlah sampel sebanyak 1.000 orang responden dengan tingkat kesalahan sampel
(sampling error) sebesar plus minus 4%. Hasil survey menunjukkan publik yang
menyatakan akan menerima uang yang diberikan oleh kandidat mengalami kenaikan.
Pada tahun 2005, sebanyak 27,5% publik menyatakan akan menerima uang yang
diberikan calon dan memilih calon yang memberi uang. Angka ini naik menjadi
37,5% di tahun 2010.
Demikian pula persepsi public
bahwa politik uang akan mempengaruhi pilihan atas kandidat, juga mengalami
kenaikan dari 53,9% di tahun 2005 menjadi 63% di tahun 2010.
(suarapublik.co.id/index/index.php?...politik-uang..).
Sedangkan faktor yang
menyebabkan poltik uang ini makin marak dan seperti lazim sampai saat ini, menurut hasil survey dan
diskusi adalah:
1. Masyaraakat yang masih perlu uang karena kondisi
ekonominya belum sejahtera.
2. Caleg yang
memaksakan diri, tanpa melihat kemampuan riil.
3, Adanya investor atau
botoh atau cukong yang siap mendanai si caleg , yang bila berhasil jadi anggota
legislatif, si pemodal itu akan mendapat
proyek ( main mata ) dari pemda atau
pemerintah pusat yang seharusnya ditender terbuka. Seperti diketahu anggota
legislatif saat ini punya wewenang di anggaran APBD/APBN sampai sangat rinci.
4. Prakondisi di
masyarakat dimana banyak sekali pilkada
menggunakan politik uang dan si pemain money politik tetap dapat berkuasa
dengan nyaman.
5. Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga hukum pengadil pemilihan umum telah tercoreng oleh kasus suap yang mengenai langsung Puncak kekuasaan Mahkamah Konstitusi yaitu Ketua Mahkamah Konstitusi.
5. Prakondisi di
masyarakat oleh putusan -putusan Mahkamah Konstitusi (MK) sejak MK menangani sengketa hasil Pilkada dari tahun 2008 ( baik diketuai Mahfud ataupun Akil ) yang
didalamnya terdapat politik uang, yaitu
a. MK tidak merekomendasikan pengusutan
politik uang ke polisi menjadi pidana dengan sangsi hukum yang berat dan
hanya mendiskualifikasi ( menggugurkan ) peserta pilkada tersebut.
b. Bila pihak penggugat dan tergugat akhirnya terbukti di persidangan
sama sama melakukan politik uang gugatan
cuma ditolak tapi tidak ada sangsi hukum
terhadap para pelaku, dan tak ada diskualifikasi pada mereka.
c. Putusan Mk untuk pemilihan ulang tidak ada
sangsi diskualifikasi terhadap pelaku politik uang,atau menjadikannya pidana
pemilu yang berujung diskualifikasi ,
dan ternyata pelaku kembali melakukan politik uang dengan modus yang
berbeda.
Hal ini menjadikan
persepsi di masyarakat bahwa politik uang itu adalah cara yang diperbolehkan
dan pelaku tidak bisa dihukum dan tak
ada sangsi.
Sehingga apa yang bisa diharapkan dari anggota
legsilatif hasil Pemilu 2014 ini ?
Pemilu saat ini lebih
tepat dinyatakan sebagai pesta
MoneyCrazy daripada pesta Demokrasi.